Hijaubiru: Dunia Corat-Coret
Tampilkan postingan dengan label Dunia Corat-Coret. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Corat-Coret. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Maret 2025

Refleksi Menulis: Ketika Berlatih Menulis dari Awal (part 2)
Maret 26, 20250 Comments


 


Ada beberapa hal yang harusnya masuk di tips postingan 🔗Langkah-Langkah Berlatih Menulis dari Awal (Lagi). Tapi karena nggak tahu mau dimasukin di mana supaya semua paragrafnya masih koheren, jadi ditulis terpisah aja, hehe.

 

By the way, dua postingan ini emang kesannya personal dan spesifik karena sebetulnya ditulis buat ngurai hambatan yang saya temuin waktu latihan nulis kemarin. Rasanya lebih clear aja kalau ditulis, nggak dibayangin ngawang. Mau ditulis di notes tapi biasanya ketumpuk dan kelupaan sehingga nggak dibaca. Jadi ditulis di blog aja supaya keinget kalau buka browser.

 

Here we go...


 

Kosakata Fiksi vs Non-Fiksi

Jadi gini, ada beberapa perbedaan yang saya rasakan waktu ngelakuin rangkaian latihan yang ditulis di bagian 1 di atas. Perbedaan itu kerasa banget saat nulis fiksi dan non-fiksi. Tentu, tulisan non-fiksi lebih rigid daripada fiksi. Namun karena saya nulisnya non-fiksi naratif, maka harusnya bisa juga dibuat ngalir dan emosinya lebih kerasa.

 

Namun non-fiksi naratif saya masih kaku. Banget. Too much data kalau saya rasa. Yang sebenarnya nggak apa-apa asalkan dibarengi dengan selingan kalimat dan kata yang memicu timbulnya emosi ke permukaan. Masalahnya, ini enggak. Dan saya nemu satu akar masalahnya: kosakatanya nggak variatif.

 

Yes, entah mengapa kosakata yang saya pakai di non-fiksi lebih nggak variatif dibanding fiksi. Mungkin karena kalau fiksi, saya nyadar ‘rodanya’ adalah emosi sehingga saya pun ngasih effort dan perhatian lebih untuk cari kata yang sesuai dengan tujuan. Nah, non-fiksi, asal informasinya udah kesampaian, saya ngerasa udah cukup. Dan penyampaian info ini nggak butuh variasi kata yang gimana-gimana, beda dengan penyampaian emosi yang butuh kata-kata tertentu yang bikin saya menguras otak dan lebih rajin buka kamus dan tesaurus.

 

Jadi, kesimpulan untuk poin ini:

Pilihan kata atau diksi yang saya pakai kurang variatif, khususnya dalam non-fiksi. Thus, tulisan non-fiksinya kaku karena emosi yang saya rasain di lokasi nggak nyampai ke tulisan/pembaca.

 

Solusi:

(1) lebih libatkan emosi di non-fiksi atau variasikan diksinya, (2) latihan nulis fiksi terus jalan supaya kosakatanya kebawa di jenis tulisan apa pun.

 

 

Emosi yang Kurang Mengena di Non-Fiksi Naratif

Saya pun baru nyadar bahwa beda dengan catatan perjalanan (catper) atau travel notes yang saya buat duluuu sekali, catper saya akhir-akhir ini lebih banyak datanya daripada cerita pengalaman pribadi saya. Kalau dulu, itu cerita perasaan, kesan tentang pemandangan, dan semacamnya bisa jadi 1-2 halaman sendiri. Di catper yang paling terakhir kemarin, itu deskripsi palingan cuma 1 paragraf. Kadang malah beberapa baris aja.

 

Catper yang baik seharusnya seimbang antara cerita pengalaman diri sendiri dan kisah tentang tempat itu sendiri. Nah, ini yang saya nggak balance. Kalau dulu lebih banyak pengalaman pribadinya, sekarang malah banyakan datanya.

 

Jadi PR kedua adalah: memperbaiki imbalance pengalaman pribadi dan data-data ini.

 

Hm... apa lagi ya...

 

 

Menulis Rutin Itu Berat

Oh iya, menulis sesuai jadwal itu... berat. Jangankan setiap hari, sekali seminggu aja kadang rasanya udah mengisap energi.

 

Saya pun bukan tipe orang yang bisa nulis setiap hari. Sejak dulu, saya memang menggunakan hari-hari tertentu aja buat nulis. Masalahnya adalah semakin ke sini, semakin saya menulis sambil mengedit sehingga di hari-hari menulis itu malah tulisan saya mandek karena penginnya itu tulisan langsung selesai. Akhirnya malah sering berhenti lamaaa buat mikir dan malah nggak enjoy nulis seperti dulu karena kebanyakan mikir. Akhirnya, saya merasa pikiran dan jari saya pun macet mengetikkan kalimat-kalimat yang dulu mengalir lancar.

 

Tulisan nggak kunjung tamat, isi pikiran macet di ujung lidah tanpa diketik. Stuck.

 

‘Nggak bisa begini, nih’, batin saya.

 

Apalagi di saat yang bersamaan, saya ngerasa kosakata saya berkurang drastis. Ini juga yang jadi alasan kenapa mikirnya lama.

 

In the end, I resorted to one thing I rarely considered doing: nulis setiap hari tanpa mikir panjang. Tujuan nulis-30-hari ini memang sejatinya bukan buat ‘nulis’, tapi lebih buat melenturkan kosakata dan melancarkan pikiran. Cuma nulis 1-2 paragraf pendek pun oke.

 

Dan... bener aja, setelah nulis-bebas-30-hari, saya jadi lebih loss mengutarakan maksud dalam tulisan. Kosakata yang sempat hilang, perlahan kembali.

 

Setelah ngetiknya mulai lancar, frekuensi nulisnya saya kurangi jadi seminggu 1-2 kali aja. Itu pun ternyata masih kerasa berat, hahaha. Tapi ya udahlah, kalau nurutin mood kayaknya tulisan saya bakal lamaaa selesainya.

 

Jalanin dulu, evaluasi lagi nanti.




Photo by M. Harris on Unsplash

Reading Time:

Senin, 10 Maret 2025

Refleksi Menulis: Langkah-Langkah Berlatih Menulis dari Awal (Lagi)
Maret 10, 2025 16 Comments

 


Ketika udah lama nggak nulis atau nggak nulis tipe tulisan tertentu, biasanya kemampuan menulis seseorang jadi kaku. Skill-nya nggak hilang, tapi mungkin butuh dibangkitkan alias dibiasakan lagi.

 

Cara ‘membangkitkan’ kemampuan nulis (lagi) ini bisa beda-beda tiap orang. Bahkan, di satu orang pun caranya bisa beda-beda tergantung tipe tulisan yang ingin dibuat. Seenggaknya itu yang saya rasain kemarin.

 

Pendek cerita, jelang akhir tahun lalu saya pengin ngerutinin nulis lagi. Pasalnya kalau dilihat-lihat kayaknya udah lama nggak nulis panjang dan (rada) serius. Dirasa-rasa juga skill nulis khususnya perbendaharaan kosakata makin menurun. Jadi, mungkin udah saatnya nggak menulis random demi nyoret to-do-list di agenda aja.

 

Bukan berarti nulis random yang kayak menggugurkan kewajiban tadi jelek. Menurut saya itu udah lumayan. Daripada nggak sama sekali. Namun setelah berbulan-bulan berasa nulis tanpa arah, mungkin kini saatnya nulis dengan lebih terarah.

 

Jadi, langkah pertama untuk mulai menulis dari awal (lagi) adalah...


 

1. Temukan Masalahnya Apa

Langkah ini bisa dilewati kalau baru mau menulis dari nol. Menemukan masalah maksudnya adalah mendaftar apa aja kekurangan tulisan (atau skill menulis) kita. Tujuannya supaya kita bisa tahu apa aja yang harus diperbaiki atau dilatih lagi, sehingga di langkah selanjutnya bisa ngerumusin latihan macam apa yang cocok. 

 

 

2. Berlatih Menulis Setiap Hari Selama 1 Bulan

Yup, setiap hari. Bukan rutin. Rutin artinya teratur, yang berarti bisa jadi dua hari sekali, seminggu sekali, bahkan sebulan sekali tapi dilakukan setiap bulan juga bisa dibilang teratur. Nah, kalau mau nulis lagi setelah sekian lama vakum, menulis tiap hari membantu banget buat menciptakan suasana alias vibes menulis.

 

Tahun lalu, saya mencoba menulis setiap hari selama sebulan. Berat? Iya. Apalagi saya tahu bahwa saya bukan tipe orang yang bisa nulis tiap hari, tapi lebih pada tipe yang lebih optimal jika meluangkan—katakanlah—1 atau 2 hari dalam sepekan untuk menulis. Namun cara ini tetap saya lakukan untuk ‘memancing suasana’ tadi.

 

Tulisannya pendek-pendek? Nggak apa-apa. Namun saya membatasi diri sendiri: minimal 1-2 paragraf. Panjang tulisan ini saya tentukan supaya saya terbiasa mengeluarkan kata-kata. Tujuan langkah kedua ini memang supaya lebih lancar menghasilkan kalimat, agar tangan dan otak lebih lentur dan bebas.


Awalnya mungkin sulit. Kata-kata seperti mandek. Itu-itu aja. Namun lama-lama, kalimat itu memanjang dan menjadi paragraf. Bahkan kadang sampai satu halaman A4 atau lebih.

 

2.1. Tulis Sekarang, Edit Kapan-Kapan

Ngerasa tulisan belum bagus? Nggak apa-apa. Edit nanti, tulis dulu sekarang. Kemarin pada tahap ini saya cuma ngedit ejaan, isi sama sekali nggak saya sentuh. Seperti di atas, menulis tiap hari ini bertujuan agar kita lancar meluncurkan kata-kata dulu.

 

2.2. Tentukan Ide Tulisan Selama Sebulan

Bingung apa aja yang mau ditulis selama 30-31 hari?

Ada banyak cara. Di internet ada banyak tips ‘mencari ide menulis’. Paling gampang ya cerita sehari-hari yang kita alami. Tapi gimana kalau pengin nulis fiksi? Bisa pakai tema atau prompt. Kemarin saya pakai 30-days prompts yang saya temukan di akun-akun Instagram penulis. Ambil satu fragmen kejadian di hidup kita dan diselipkan ke tulisan fiksi pun bisa banget. Intinya banyak topik yang bisa dipakai.

 

Cara lebih mudah supaya nggak tiap hari cari tema baru:

Siapkan tema selama sebulan itu, di awal. Misalnya, kemarin saya sempat pakai topik “tempat-tempat yang bercerita”. Jadi sebulan itu saya nulis kisah tentang tempat-tempat di beragam lokasi; keunikannya, legenda, kebiasaan masyarakat, dsb. Kalau bosan, saya ganti dengan bikin cerpen yang setting-nya di sebuah lokasi.

 

Itu tadi tulisan non-fiksi. Gimana kalau fiksi? Sama aja. Malah enaknya kalau fiksi, kita bisa pakai kesempatan ini untuk menggali dan mengenal cerita kita lebih dalam. Apalagi kalau cerita itu kita niatkan untuk dijadikan novel. Bisa banget tuh tiap hari kita nulis tentang, misalnya: karakterisasi tokoh-tokohnya, eksplorasi setting dan konflik, dsb.

 

Kemarin kalau lagi kehabisan ide, saya pakai satu kejadian lalu diceritakan dari sudut pandang berbagai karakter. Contohnya kejadian barang hilang. Hari ini diceritakan dari POV tokoh utama A, besok dari POV tokoh B, lusa dari POV tokoh sampingan C, dsb. Satu kejadian bisa habis seminggu sendiri, tuh.


 

3. Menulis Rutin Selama 1 Bulan + Koreksi

Setelah jemari dan otak kita sudah lentur meluncurkan kata-kata, langkah selanjutnya adalah mengurangi frekuensi menulis. Bisa 4 kali saja dalam sebulan, 2 kali, atau bahkan hanya 1 tulisan dalam sebulan. Lho, kok?

 

Kelihatannya seperti berkebalikan, tapi ini adalah tahap selanjutnya untuk ningkatin skill tulisan. Bila di tahap sebelumnya kita menulis ngalir tanpa editing, maka di tahap ini kita mulai mengedit. Oleh karena itu frekuensi nulisnya dikurangi karena diseling dengan memperbaiki kekurangan kita dalam menulis (yang udah terumuskan di poin 1. Atau nemu kekurangan baru setelah melalui langkah 2)


Langkah ini nggak sengaja kepikiran setelah saya baca ulang tulisan selama 30 hari di atas. Rasanya, kok, tulisanku gitu-gitu aja, ya? Saya ngerasa ada (banyak) yang kurang. Kekurangan inilah yang kemudian dirumuskan di poin 1 tadi, untuk kemudian diatasi di poin 3 ini.

 

 

3.1. Beda Kasus, Beda Koreksi

Kekurangan tiap orang bervariasi sehingga koreksi di tahap ini bisa beda-beda tergantung kasusnya. 


Buat saya, masalahnya adalah:

  • Untuk tulisan fiksi, emosinya masih kurang terasa/berasa datar
  • Untuk tulisan fiksi, eksekusi konfliknya masih biasa aja
  • Untuk non-fiksi, kadang terlalu info-dump
  • Untuk non-fiksi, kosakata atau diksi yang digunakan kurang bervariasi, sehingga
  • Untuk non-fiksi naratif, emosi pembaca jadi kurang bangkit karena terfokus di data
  • Untuk non-fiksi, alurnya masih lompat-lompat sehingga pembaca (termasuk saya) ngerasa kurang ngalir/paham saat dibaca.

Setelah masalahnya ketemu, baru kita rumuskan koreksinya.

3.2. Membaca: Solusi Semua Koreksi

Koreksi dari semua persoalan di atas umumnya beda-beda. Namun ada satu yang hampir meng-kover semuanya: lebih banyak baca!

 

Emosi kurang terasa? Baca buku fiksi dan perhatiin gimana penulisnya membangkitkan emosi pembaca. Kosakata itu-itu aja? Baca apa pun itu, koran kalau perlu, supaya perbendaharaan kosakata nambah. Cara paling praktis: buka kamus atau tesaurus.

 

3.3. Buat dan Bedah Strukturnya

Untuk persoalan lain, seperti alur dan info dump, bisa dikoreksi dengan membedah struktur tulisan. Oh my... sesungguhnya saya bukan tipe orang yang suka nulis berbekal kerangka yang rigid. Lebih suka ngalir aja gitu. Namun untuk beberapa kasus, mau-nggak-mau saya harus ngaku kalau saya butuh kerangka.

 

Kerangka tulisan di sini nggak harus yang detail banget per bagian. Kalau ada orang yang suka ngerumusin detail, it’s okay. Saya sendiri tipe yang kerangkanya lebih kayak garis besar (bahkan kadang nggak ditulis, tapi ngawang di kepala aja) terutama saat nulis fiksi. Kalau nulis non-fiksi yang ada banyak data, barulah saya bikin kerangka lebih detail supaya nggak bersusah-payah inget-inget data bejibun dalam kepala.


Setelah masalah + koreksi ditemukan, selanjutnya adalah menentukan rutinitas. Mau berapa kali nulis dalam seminggu/sebulan?


3.4. Tentukan Rutin

Untuk langkah satu ini, saya pakai cara hitung mundur. Mirip cara tracking progress gitulah. Misal targetnya satu tulisan final tiap minggu. Maka tulisan itu jadi tiap weekend, sehingga 1-2 hari sebelumnya tulisan itu sudah harus jadi sehingga bisa diedit. Artinya saya punya waktu 2-3 hari untuk nulis. Hari 1-2 bisa dipakai untuk ‘membedah’ tulisan, termasuk menyusun kerangka, alur, cari data, dsb.


Contoh gampangnya seperti ini:

  • Hari 1: tentukan isi, cari data, tentukan kerangka
  • Hari 2: temukan kekurangan kerangka, perbaiki
  • Hari 3-5: nulis (bisa selama 3 hari itu, bisa 1 hari aja. Tergantung keinginan dan kemampuan/waktu luangnya)
  • Hari 6-7: editing
  • Hari 7: naskah jadi. Kalau mau bisa di-upload ke medsos dsb.

 

Ini contoh aja. Dalam kenyataannya, semua tergantung kita cocoknya gimana. Saya pernah maksain, dan hasilnya nggak begitu bagus karena malah stres dan nggak rileks nulis. Pernah juga malah nggak kegarap semuanya karena bikin plan yang terlalu padat.

 

Contoh 1 tulisan per minggu di atas juga cuma gambaran. Saya rasa, panjang dan isi tulisan amat menentukan durasi yang dibutuhkan. Pun tipe tulisan. Untuk tulisan yang data-driven atau panjang, saya bisa butuh waktu satu bulan sendiri buat satu naskah. Ngumpulin datanya bisa habis 1-2 pekan sendiri. Belum kalau ada foto, maka harus nyortir dan milihin mana yang sekiranya cocok.

 

‘Perlakuan’ untuk tulisan fiksi dan non-fiksi pun berbeda. Tergantung kita lebih lihai di mana, di situlah kita mungkin butuh waktu lebih sedikit untuk memolesnya (karena udah lebih ahli).

 

Pada akhirnya saya memutuskan mengambil ‘resep’ ini:

  • 1 tulisan non-fiksi atau panjang per bulan
  • 1 tulisan fiksi per bulan
  • 1 tulisan (pendek) per minggu

 

Apakah berhasil? Bulan kemarin, sih, belum, hahaha. Masih ada missed karena fiksinya nggak kegarap. Entahlah bulan ini. Let's see ðŸ˜„




Update: 

🔗 bagian 2 | Ketika Berlatih Menulis dari Awal



(Photo by M. Harris on Unsplash)

 

 

Reading Time:

Minggu, 18 Agustus 2024

Tentang Buku Save The Cat: Novel dan Skenario
Agustus 18, 20240 Comments

 

Ketika sudah ‘lumayan akrab’ dengan perpustakaan online, saya punya hobi baru: ngecek buku yang pengin dibeli. Bukan apa, tapi akhir-akhir ini saya tergolong sering nemu buku yang review-nya menarik atau selangit, tapi begitu udah beli dan baca, eh, ternyata nggak sebagus itu atau nggak sesuai selera saya.


Jadi untuk jaga-jaga, biasanya selain tanya pendapat teman yang udah baca, saya coba baca preview-nya di perpustakaan online macam iPusnas (btw ini gratis, akses gampang, perpus milik perpus nasional). Kalau belum tersedia di sana, saya baca lewat Google Books. Kalau intronya atau bab-bab awal terasa menarik, gaslah ke toko buku.


___________________________

Anw sebelum terlalu panjang karena postingan ini campur curhatan pribadi, 

yang cari review bisa lompat ke bagian ini (klik):

👉 Review Save The Cat - Blake Snyder

👉 Review "Save The Cat: Writes A Novel" - Jessica Brody

👉 Kesan tentang Save The Cat

___________________________


Sama kayak buku “Save The Cat” ini. Buku tulisan Jessica Brody ini menulis tentang teknik menulis sebuah novel yang menarik, memikat, mengikat, yang diberi nama teknik ‘Save The Cat’. Buku ini udah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tahun 2021 lalu. Dan karena di-endorse (dan udah dipraktikkan) oleh salah satu penulis favorit saya, maka saya jadi tertarik beli, ahahah.

 

Tapi...

... sebenarnya saya kurang suka ngulik metode nulis begini. Saya lebih suka nulis tanpa bikin struktur rinci, rancangannya cukup di kepala atau garis besar aja (kecuali waktu nulis non-fiksi atau tulisan yang agak panjang). Namun karena Dewi Lestari bilang bahwa ngertiin struktur bisa banget dipakai untuk ngatasi writer’s block dan cerita yang mbulet atau malah stuck (yang mana adalah masalah saya selama bertahun-tahun, huhu), jadi tertarik, deh.

 

Karena ‘khawatir’ kurang cocok inilah, saya pun cek dulu isinya lewat perpus online. (Apalagi belakangan ini banyak banget kan buku metode menulis fiksi yang membanjir tapi isinya mirip atau gitu-gitu aja. Nggak mau rugi, dong. Sayang kalau isinya sama kayak pelajaran di sekolah dulu atau bisa didapat semudah browsing internet.)

 

Tujuan pertama adalah Google Books. Seperti udah diduga, di sana memang ada tapi hanya beberapa bab (namanya juga preview). Terus terpikir, coba cari di iPusnas, ah. Siapa tahu malah ada versi full-nya? Dan...

 

Jeng-jeng! Memang ada. Nggak butuh waktu lama, saya langsung klik tombol pinjam.

 

Menelusuri daftar isi, ucapan terima kasih, kata pengantar... oke.

Tapi, eh, kok kayaknya beda dengan preview yang pernah saya baca di Google Books? Nggak apa-apalah, lanjut aja. Baru ketika bab 1 udah kelar, saya bandingin sama yang di G-Books. Eh lho, ternyata emang beda! Yang lagi saya baca adalah Save The Cat untuk skenario film besutan Blake Snyder, sedangkan versi novel yang (rencananya) pengin saya beli adalah tulisan Jessica Brody. Pantesan aja rasanya ada yang beda, karena seingat saya pengantarnya ditulis Dee Lestari, sedangkan yang sedang saya baca, ditulis Gina S. Noer (pembuat film).

 


Mengapa buku Save The Cat ada dua?

Bukan ada dua, sebenarnya. Tekniknya cuma satu. Hanya aja buku yang satu soal penyusunan skenario, satunya spesifik tentang menulis novel. Seenggaknya itu yang versi (terjemahan) Indonesia.

 

Mana yang ‘betulan’?

Dua-duanya betulan. Save The Cat-novel merupakan pemekaran dari Save The Cat-skenario.

 

Jadi ceritanya, metode Save The Cat (disingkat jadi STC aja yak) pertama digagas oleh Blake Snyder untuk penulisan skenario. Lalu murid Snyder, Jessica Brody, mempraktikkan ini dalam prosesnya nulis novel. And it worked! Jadilah Brody nyusun buku tentang STC untuk penulisan novel.

 

Dan karena saya memang sukanya nulis buku dan bukan skenario, maka sebenarnya yang pengin saya baca aslinya adalah buku susunan Brody.

 

Tapi... STC-novel ini nggak tersedia di iPusnas. Yang ada ya STC-skenario sehingga ini yang bisa dibaca lengkap. Nggak papalah, saya pikir. Kan STC-novel ‘akarnya’ dari STC-skenario ini. Pasti ada hal yang bisa diambil buat penulisan novel meski mungkin butuh penyesuaian. Let’s go!

 


Review Save The Cat – Blake Snyder

Sebelum baca bukunya, saya udah pernah cari info soal metode STC ini. Sekilas intinya kayak nempel poin-poin penting sebuah cerita dan diurutkan. Kalau lihat papan tempelannya, kelihatan penuh post-it. Memang, poin-poin di STC ini ada sampai 40. ‘Banyak banget,’ batin saya yang waktu itu lalu ‘meninggalkan’ STC karena ngerasa ribet.

 

Intinya, metode STC membagi kejadian dalam beberapa babak/poin tadi. Total ada 15 babak. Banyak? Iya. Namun kalau ditelusuri lebih dekat, 15 babak ini sebenarnya perincian dari 3-4 babak utama aja. Pernah dengar struktur 3 babak? Ini struktur umum yang isinya intro – tengah/konflik – penutup/resolusi/ending. Nah, STC merinci 3 babak ini lebih detail. Kenapa? Karena, kalau saya, nulis panjang ‘cuma’ pakai 3 babak ini masih bikin bingung ‘mau dibawa ke mana’ karena terlalu umum.


Papan Save The Cat dari studiobinder.com


Jadi STC ini merupakan rincian dari 3 babak itu. 

Btw grafik STC ini macam-macam. Makanya kalau browsing, kita akan ketemu beberapa versi. Tapi nggak usah bingung, intinya tetap sama di 15 beats itu. Bedanya cuma di peletakan di grafik aja.


 

STC-skenario menjelaskan 15 babak ini diisi apa aja. Sebuah pencerahan buat saya, karena grafik naik-turun konflik dan emosi dijelaskan rinci di sini: apa yang terjadi, gimana pergolakannya, dsb. Nah, dalam masing-masing babak ini diisi 2-4 kartu yang isinya peristiwa-peristiwa yang ingin kita masukkan dalam cerita. Kebanyakan sampai totalnya lebih dari 40? Nggak apa-apa, nanti bisa diseleksi. 40 poin/kartu ini kemudian disusun dan dirajut sedemikian rupa, detailnya di buku.

 

Adegan/peristiwa paling ujung dalam sebuah babak harus merupakan penyambung atau lontaran untuk masuk ke babak selanjutnya. Waktu baca ini, sekilas saya jadi ingat metode nulis yang dibilang Pak Gol A Gong dan A.S. Laksana. Keduanya juga menyatakan hal yang sama. Jadi ingat pula soal kohesi-koherensi kalimat.

 

Selain tentang rincian babak (atau yang di STC sering disebut beat sheet), buku ini juga punya penggolongan cerita. Pengkategorian di sini nggak sekadar genre romance, thriller, dsb, tapi lebih spesifik. Sebuah cerita cinta-cintaan dan sebuah film pencarian jati diri bisa aja termasuk ‘genre’ yang sama karena punya plot yang mirip. Oleh karena itu, banyak yang nyebut penggolongan ini sebagai ‘plotting genre’.

 

Kalau pernah dengar tipe plot macam Cinderella’s story, rags-to-riches, dsb, rasa-rasanya plotting genre yang dibahas di STC mirip dengan itu. Bedanya di STC ada 10 genre: mulai dari Golden Fleece sampai Monster In The House. Genre ini bisa ngebantu kita nentuin mana ‘perjalanan cerita’ yang cocok sama cerita kita.

 

Selain ngebahas teknik, buku ini juga ngomongin soal kesalahan yang umum dilakukan. Beberapa mungkin pernah kita dengar, antara lain:

  •  dialog bertele-tele,
  • Double Mumbo Jumbo, yang berarti kejadian fantastis yang jumlahnya kebanyakan (kayak yang sering terjadi di sinetron kita. Ujian ini ditambah peristiwa itu terus ditambah lagi sampai yang nonton overwhelmed)
  • Pope In The Pool, yang rasanya mirip tips nulis yang menggabungkan setting atau latar dengan aksi tokoh supaya nggak ngebosenin dan terlalu eksposisi (cara ini sering saya pakai kalau nulis travel-writing atau cerpen yang temanya travelling)

dsb.


Pada intinya, STC ini metode supaya kita sebagai pembaca/penonton memihak ‘Hero’ alias tokoh utama dalam cerita. Teknik ini dirinci jadi 15 babak – 40 kartu – pemilihan plotting genre tadi. Buku ini juga banyak ngebahas soal penokohan, karena poinnya adalah keberpihakan ke Hero.

 

Jadi, apa STC-skenario ini bisa dibaca untuk panduan bikin novel?

Bisa banget. Meski bukunya ngomongin skenario, tapi tekniknya applicable banget untuk novel.

 

Gimana dengan media lain, misalnya cerpen atau artikel?

Ada poin-poin yang tetap bisa banget dipakai, seperti hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penulisan atau kesalahan yang umum dilakukan tadi. Namun karena babak/beats-nya banyak, mungkin soal beats ini aja yang nggak applicable. Bikin cerpen/artikel dengan 15 beats kayaknya terlalu penuh; pakai struktur 3 babak aja cukup. Kalau novelet, masih bisalah pakai STC karena rada panjangan.

 

Setelah tamat dengan STC skenario, sekarang kita beralih ke...

 


Tentang “Save The Cat: Writes A Novel” oleh Jessica Brody

Karena buku ini belum tersedia di iPusnas dan di G-Books hanya ada preview-nya, maka ini bahasan sesuai halaman yang bisa saya ‘intip’ di sana.

 

Dilihat dari daftar isi, STC-novel ini babnya banyak dipenuhi bahasan tentang plotting genre (itu lho, yang kayak Golden Fleece atau Rags to Riches tadi). Bedanya dengan STC-skenario, di sini isinya lebih dirinci dengan elemen-elemen yang harus ada di tiap plotting genre. Contohnya genre Golden Fleece yang punya elemen cerita berupa jalan (perjalanan tokoh), tim/teman, dan hadiah.

 

Kalau browsing di tempat lain, masing-masing plotting genre punya 3 elemen. Elemen ini ngebantu banget kalau pengin mempertajam cerita. Misal, kita nulis cerita soal petualangan. Nah, supaya petualangannya lebih greget dan nggak lempeng, apa aja yang harus ada dalam cerita? Inilah yang dibahas per elemen.

 

Selain ada elemennya, STC-novel juga ngasih contoh rinci banget tentang novel/film di masing-masing genre. Benar-benar dibedah. Kayaknya ini nih yang bikin bukunya jadi tebal, karena satu novel bisa dibedah elemen dan beats-nya sampai berlembar-lembar. Di satu sisi, ini ngebantu banget buat yang nyari contoh supaya bisa lebih paham materi di bab itu. Di sisi lain, mungkin ada yang ngerasa too much, terlalu detail; termasuk saya. Bagian ini saya baca sekilas aja karena saya cuma pengin tahu tentang genre-genre ini secara umum dan pengin langsung aja ke bahasan selanjutnya.

 

Perbedaan lain antara buku STC-skenario dan STC-novel adalah buku STC untuk penulisan novel  lebih ramah pemula. Di sini diterangin dari awal tentang tetek-bengek pembabakan dan penulisan. Di STC-skenario, bahasannya langsung to the point ke perumusan babak; langsung ke teknis beat sheet. Pembahasan seperti penokohan, nama babak, dsb, tetap ada tapi rasanya nggak serinci di STC-novel. Orang yang baru pertama nyemplung di dunia tulis-menulis mungkin akan bingung begitu di lembar-lembar pertama langsung ketemu dengan berbagai istilah seperti midpoint, B-story, dsb. Kalau orang yang udah agak lama nyemplungnya, ini bukan masalah karena udah kenal istilah itu. So, STC-skenario bukunya lebih to the point.

 

Jadi untuk yang baru mulai nulis, buku Save The Cat versi novel (Jessica Brody) lebih recommended. Untuk yang udah beberapa saat nyemplung di dunia kepenulisan, versi skenario (Blake Snyder) bisa langsung dilahap. Buku STC versi skenario bisa dibaca gratis secara daring di aplikasi iPusnas.

 


Kesan tentang Save The Cat

Sebagai orang yang lebih suka nulis ngalir aja alias strukturnya ngawang di kepala, awalnya maju-mundur mau baca STC. ‘Toh udah pernah baca/ikut kelas penulisan lainnya’, pikir saya waktu itu. Namun, sebuah petuah dari (lagi-lagi) Dee membuat saya tercenung, “Kalau buntu saat nulis, itu artinya ada yang salah dengan struktur cerita.”

 

Saya melirik bab-bab tulisan yang terbengkalai lama sekali. Ya, persis, itu ‘penyakit’ saya: buntu, ngerasa tulisan kurang greget. Padahal saya udah coba beberapa teknik lain. Cuma, setelah baca STC, rasanya teknik yang pernah saya pakai itu terlalu umum; kurang detail, jadilah tulisan jadi lempeng-lempeng aja.


Jadi, apakah STC ini cocok untuk penulis model pantser?

(alias yang suka nulis ngalir tanpa bikin kerangka)

Berkaca dari saya sendiri, rasanya cocok-cocok aja. STC bisa ngebantu saat kita buntu ini cerita mau dibawa ke mana atau saat kehabisan ide dengan ngelihat 40 kartu beat sheet yang berisi momen penting. Toh bikin struktur bukan berarti itu kerangka nggak bisa diubah kalau ada yang dirasa kurang cocok. Ngelihatin list ide juga bisa bikin inspirasi terpantik. Dan, kalau buntu, kita bisa lebih mudah menelusuri bagian yang bikin cerita buntu atau nggak asyik.


Mengutip kata-kata Jessica Brody, yang kurang lebih, 

Bagi penulis tipe plotter, STC ibarat peta yang memandu mereka selama perjalanan. Bagi pantser, STC lebih seperti montir yang membantu mereka memperbaiki kendaraan bila dalam perjalanan timbul masalah.


Sejenak setelah menekuri poin-poin STC, reaksi saya, “Wah, padat banget!”

Plotnya padat seperti berkejaran. Setelah kejadian menegangkan A, masuk poin menegangkan B, dst. Sekilas kayak nggak ada jeda untuk bernapas. Namun kalau dipikir-pikir, ya emang ‘feel’ tulisannya jadi lebih dapat; lebih seru. Beberapa novel yang saya tahu dibuat dengan teknik STC pun terasa lebih asyik, page-turner banget, surprise-nya nggak habis-habis (meski kadang berasa ‘ini nggak ada istirahatnya ya?’ tapi tetap seru!).


Mungkin metode ini cocok untuk novel yang isinya padat dan butuh tempo yang cepat (untuk ‘mengikat’ pembaca). Kalau pengin nulis novel yang temponya lebih slow, mungkin bisa dikondisikan dengan utak-atik beat sheet STC atau pakai metode lain.

 

Apa teknik STC bisa digunakan untuk jenis tulisan lain?

Hmm, tergantung jenis tulisannya. Untuk tulisan pendek macam cerpen kayaknya kurang cocok karena beats-nya banyak, sedangkan ruang untuk cerpen terbatas. STC cocok untuk konflik yang kompleks berlapis, sedangkan konflik cerpen butuh selapis aja. Kalau untuk novelet, mungkin masih bisa.

 

Meski begitu, beberapa poin pembahasan di buku STC bisa banget dipakai untuk jenis tulisan lain. Contohnya tentang penokohan (bisa dipakai di cerpen), Pope In The Pool (bisa dipakai di artikel/cerpen/travel-writing), pentingnya subteks, dsb.

 

Teknik STC ini udah banyak yang bahas di internet. Grafiknya bejibun. Ada website-website yang ngebahas rinci bahkan nyediain tools gratis untuk identifikasi plotting genre tulisan kita (apalagi website berbahasa Inggris). Cuma kadang infonya terpotong-potong, jadi (kalau saya) lebih enak baca bukunya karena langsung ada di satu tempat.

 

Buku STC-novel dan STC-skenario dua-duanya sama-sama worth the time. Mungkin, inilah solusi yang saya cari selama ini, hahaha. Setelah ini mau coba ah, semoga cocok dan bisa memecahkan kebuntuan menahun ini ðŸ˜„


=    =    =    =    =


Selain buku Save The Cat, ada beberapa buku lain tentang metode menulis yang menurut saya gampang dipahami. Gampang banget bahkan untuk yang baru mulai nulis. Buku-buku inilah yang ngebantu saya nulis lebih baik di saat panduan menulis (waktu itu) hanya ada buku panduan formal sedangkan saya nulis teenlit. 

Penasaran, nggak? Semoga bisa ditulis di postingan selanjutnya, hehe. 

Reading Time:

Jumat, 24 Februari 2023

Mengumpulkan Kepingan Detail Perjalanan
Februari 24, 20230 Comments


[ Sebetulnya, ini adalah secuplik tips tentang bikin detail catatan perjalanan (catper/travel notes) dengan cepat. Versi saya. Disclaimer: beberapa cara adalah ajaran dari orang/penulis lain atau pelatihan yang kemudian diatur gimana enaknya supaya saya nyaman mencatat dan menulis dengan metode itu. Dan ini konteksnya buat tulisan perjalanan, bukan vlog dan semacamnya.]


Banyak hal terjadi selama kita melakukan perjalanan. Untuk sebagian orang, travelling ya untuk dijalani dan dinikmati, plus didokumentasi dalam foto sebagai bukti. Bagi sebagian orang lainnya, jalan-jalan bisa menjadi bahan tulisan atau memoar tersendiri. Atau, simply pencatatan itinerary untuk diingat atau dibagi ke orang lain yang mungkin ingin menempuh perjalanan yang sama. Terutama untuk pejalan tipe kedua, jalan-jalan nggak hanya dinikmati aja, tapi juga dicermati.


Tapi, kan, banyak hal terjadi selama kita jalan-jalan. Gimana caranya kita mencatat/menulis itu semua?


Memang, nggak harus semuanya.

Kesalahan saya (dan juga kesalahan umum banyak penulis catper pemula, seperti yang dibilang penulis catper kawakan, Agustinus Wibowo) adalah menuliskan semua dengan detail. Mulai dari bangun pagi, mandi, sikat gigi, sarapan, dst. Padahal maksud detail itu adalah: rinci boleh, tapi hal yang penting-penting aja. Kalau nggak penting, buat apa ditulis? Apa pembaca mau ngabisin waktu buat baca hal yang berlarat-larat kayak ... 


Pemandangan itu sangat indah. Lautan luas terhampar di hadapan mata. Warnanya biru sejauh mata memandang. Pasir putih yang halus aku rasakan di bawah kaki. Rasanya nyaman sekali. Rasanya seperti sedang di-massage sembari menikmati belaian sutra superlembut yang tak kasat mata. Air pantainya pun jernih dan segar sekali. Rasanya seperti air murni yang dibawa langsung dari surga. Apalagi pemandangan di pucuk horizon sana ... dst. 


... gitu? Karena kalau berkaca dari diri sendiri, saat nyari review atau catper orang untuk survei lokasi pun saya biasanya scanning aja kalau nemu yang begini (meski kadang juga masih kepeleset nulis hal kayak gini, wkwk).


Apa deskripsi keindahan dan lokasi itu nggak penting atau nggak perlu ditulis? Penting! Asal nggak terlalu banyak. Kalau satu pemandangan digambarkan sampai tiga paragraf dengan isi yang mirip, kan bosan juga bacanya.

(Ini mirip dengan nulis fiksi, sih. Saat editing, bagian yang bertele-tele atau nggak berhubungan dengan plot ya dibuang karena menuh-menuhin dan nggak ngefek ke cerita. Apalagi kalau di cerpen yang jumlah halamannya lebih terbatas.)


Masalah kedua yang berkaitan dengan rincian: kekurangan bahan.

Ini juga sering terjadi sama saya. Rasanya, pengalaman di lokasi itu banyak, penuh, tumpah-tumpah. Namun begitu ditulis, lha, kok "isinya" cuma 1-2 paragraf aja. Sisanya entah deskripsi perasaan atau lokasi yang panjang sekali dan semacamnya. Kalau sudah gini, mau nggak mau memang harus riset untuk nambah bahan dan perspektif. Namun, lebih mudah lagi sebetulnya kalau kita kembangkan pengalaman di lokasi plus riset. Biasanya yang seperti ini menghasilkan tulisan yang lebih ‘nyambung’; lebih relate. Mungkin karena asal bahan tulisannya real time.


Lalu muncul masalah baru: ketika kita nggak mampu mengingat detail yang terjadi di perjalanan. Maklum, daya ingat manusia memang terbatas. Untuk itulah kertas diciptakan; untuk ditulisi hal-hal yang bisa dilupakan atau tak muat ditampung otak. Jadi, solusinya adalah ditulis? Iya dan enggak, karena ada beragam metode. Ini cara yang saya pakai di trip baru-baru ini:

1. tulis di buku/notes kecil, atau

2. ketik di catatan HP

3. catat dengan rinci, atau

4. catat garis besar atau kata kuncinya aja

5. rekam suara

6. foto/video.

Mari kita bahas satu-satu.


Cara pertama, kedua, dan ketiga sudah jamak dilakukan. Pertama dapat ilmu ini waktu bergabung di ekskul Pecinta Alam. Ketika diklat, kami disuruh menulis catatan tentang hal-hal penting hari itu: apa aja yang dilakukan, ngapain dan ke mana aja, ada peristiwa tertentu atau enggak, dsb. Ketika naik gunung juga sama. Kami diminta mencatat jam-jam secara rinci, jarak tempuh pos X ke pos Y, kondisi medan, dsb.


Di zaman itu memang catatan begini sangat berarti karena bisa jadi panduan untuk pendakian selanjutnya. Gampangnya, kalau ada teman/adik kelas/klub pecinta alam lain yang mau naik gunung tsb, mereka bisa survei waktu dan medan ke orang yang pernah naik duluan. Selain tanya-tanya, cara lain, ya, lihat catatan perjalanan orang yang sudah pernah naik. Kalau sekarang, kayaknya info begini udah bejibun. Apalagi di jagad internet dan medsos. 


Penulisan jam, medan, dll, ini masih saya pakai sampai sekarang. Cuma, kalau dulu nyatat di buku, sekarang saya lebih suka nyatat di ponsel. Lebih cepat aja ngetiknya daripada nulis. Karena lebih cepat itu, jadi bisa ‘mengejar’ otak yang kadang baru mikir kejadian A, eh, udah lompat ke kejadian B.


Seringkali mikir lompat-lompat ini yang bikin malas nyatat karena kayaknya banyak banget yang perlu dicatat dan diingat kembali. Saya biasanya baru nulis lengkap kalau malam. Saat kegiatan sudah selesai semua, ketika sudah makan-ganti baju-siap tidur. Padahal itu jam capek-capeknya, kan. Kadang malah nggak jadi nulis karena langsung bablas ke alam mimpi.


Oleh karena itu, saya pakai cara keempat, yaitu catat garis besarnya. Cara ini saya pakai kalau sudah capek/malas ngetik panjang. Sejujurnya, ini cara baru saya pakai semingguan lalu. Mikirnya, “Daripada nggak ditulis, mending tetap nyatat tapi pendek-pendek.” Saya ketikkan kata kunci-kata kunci yang ketika dibaca ulang (harapannya) bisa membangkitkan ingatan detail tentang perjalanan. Kalaupun lupa lagi ngebahas apa, kata-kata tsb juga bisa bantu buat browsing sehingga voila, muncullah cerita yang nyambung.


Misalnya, waktu berkunjung ke desa adat Batak. Pemandu tur menjelaskan banyak hal soal perkakas adat. Maka ditulis: tongkat raja, anak kembar, relief jiwa, pohon. Dengan baca kata-kata ini, saya jadi ingat kalau raja Batak punya tongkat berelief ukiran wajah orang-orang. Raja Batak ini punya anak kembar yang kisah hidupnya miris hingga lengket di pohon.


Namun, sejujurnya cara ini termasuk last resort. Soalnya, kadang nggak semua hal yang kita temui di lokasi bisa ditemui di internet. Jadi browsing-nya rada ribet atau, bad news, nggak nemu. Apalagi kalau kata kuncinya keliru.


Tapi, kan, udah capek seharian jalan-jalan. Masa harus nulis detail, sih?

Untuk itulah ada cara kelima: rekam suara.

Cara ini juga baru kemarin saya pakai dengan total. Sebelum itu pernah, sih, ngerekam suara, tapi durasinya nggak lama. Soalnya, saya malu dan sungkan kalau ngerekam suara tapi ada orang lain yang satu ruangan, hahaha. Pernah saya ‘rekaman’ waktu teman sekamar lagi di kamar mandi. Atau kalau seruangan, ngerekamnya pelan banget kayak bisik-bisik.


Ngerekam suara lebih enak karena kita nggak capek nulis dan mikir. Ngomongnya kayak ngobrol sama teman biasa; ngalir aja kayak lagi curhat. Hanya saja ini ngomong sendiri. Alhamdulillah kalau teman dengar dan mau benerin/nambahin info. Tapi, sisi nggak enaknya adalah kita harus dengerin rekaman itu ketika pulang, kemudian mencatat ulang. Buat orang yang nggak telaten dengar dan lebih cepat baca, ini jadi salah satu cobaan tersendiri. Berasa kerja dua kali. Namun, saat hari-H dan di lokasi, memang jadi hemat energi.


Rekaman suara adalah cara paling final dan paling mudah buat nyatat catper. Cuma, ya, hati-hati aja supaya file-nya nggak keburu dihapus karena dianggap rekaman nggak penting. Untuk mempermudah, di awal rekaman bisa diomongin tuh tanggal dan lokasinya. Misal, “Halo, hari ini 20 Februari 2023, hari pertama trip ke Bandung.” Nge-record-nya sama kayak tulisan, yaitu bisa dibikin per hari atau per malam.


Nah, kalau lagi di jalan dan nggak mungkin nyatat atau ngerekam, gimana?

Misalnya, lagi naik gunung. Ngerekam, kan, butuh waktu. Padahal waktu rest saat hiking toh terbatas buat betul-betul rehat dan tarik napas. Nyatat pun jadi out of question dan kadang jamnya jadi diingat-ingat aja. Sebetulnya bisa aja diketik cepat di ponsel. Tulis aja jam, lokasi, dan medan kalau perlu. Tapi untuk itu pun kadang juga udah malas. Pun ketika malam, bisa jadi lupa detailnya karena kecapekan.


Untuk itulah ada cara keenam: foto/video. Foto tempat, spot yang penting, atau plang penanda. Kalau mau detail medan, fotolah kondisi jalan dan sekitarnya. Kalau mau lebih ringkas, videokan aja. Nggak perlu bagus, yang penting jelas, karena tujuannya untuk pencatatan. Beda cerita kalau mau bikin footage video, memang harus lebih dipikirkan.


Dulu, cara ini saya pakai kalau naik gunung dan capek. Banget. Apalagi kondisi hujan. Males banget ngetik. Ngeluarin HP aja risiko kebasahan. Maka jalan cepatnya adalah potret! Sampai pos 3 misalnya. Potret shelter atau plang posnya. Sampai pos/camp berikutnya juga sama, gitu terus. Saat sudah pulang atau lagi nge-camp dan mau nyusun catper, baru, deh, dilihat properties fotonya: diambil jam berapa, dilihat kondisi cuaca dari gambar kayak gimana, dsb. Baru ditulis ulang. 


Nggak cuma buat naik gunung, cara ini juga lumayan berguna di liburan non-hiking. Liburan kemarin, inilah cara yang saya pakai buat ngitung durasi perjalanan dari spot ke spot. Apalagi kalau bareng rombongan, kan, harus gerak cepat. Manalah mungkin nyatet-nyatet. Jadi begitu sampai tujuan selanjutnya, langsung potret aja apa yang ada di depan mata. Meski nggak ada ‘objek bagus’ sekalipun. Kan, memang buat penanda aja. Motret 'objek beneran'-nya nanti kalau udah di dalam.


Selain mengingat detail durasi dll, cara ini juga bisa dipakai saat lihat sesuatu di tengah perjalanan. Foto-foto yang dikumpulkan bisa dilihat lagi sebagai pengingat saat kita mulai menulis. "Oh, waktu itu di lokasi X ternyata aku lihat ada kejadian Y." Cara ini bisa memperbanyak isi tulisan, sebab yang ditulis nggak cuma deskripsi pemandangan dkk tapi juga peristiwa dan rasa yang terjadi ketika sedang di lokasi.


Ini cara mengumpulkan detail tulisan. Sebenarnya metode-metode di atas juga sudah umum banget. Katakanlah lewat story Instagram/Facebook, vlog, dsb. Hanya saja kalau saya, story dsb itu cuma sekelebat sehingga detailnya masih kurang tercatat. Dan mungkin karena saya mau ‘alihkan’ bahan itu dalam bentuk tulisan kemudian. Namun kalau memang nyaman pakai video dsb dan nggak suka nulis atau mau liburan aja tanpa perlu nyatat macam-macam, ya, mangga aja karena toh hobi dan preferensi orang beda-beda. Kita nggak harus mengambil jalan yang sama. Sebab, apa yang enjoy kita nikmati emang beda-beda.


=====

Ngomong-ngomong, 

kalau diperhatikan, di sini pakai kata "travelling" (dobel L). Ejaan yang betul "travelling" atau "traveling", sih? Dua-duanya benar. Bedanya, dobel L untuk ejaan ala British English dan satu L untuk American English.

 

 

 

Photo credit: wallpaperflare.com

Reading Time:

Jumat, 06 Januari 2023

Memilih Lomba Cerpen
Januari 06, 2023 2 Comments


Sama seperti novel, cerpen pun punya 'aliran' sendiri-sendiri. Entah apa istilah resminya. Bukan tema, sebab tema lebih seperti topik: cinta, perjuangan, lingkungan, dsb, bukan? Bukan pula genre karena genre berarti cerpen horor, cerpen romance, cerpen misteri, dll. Atau, 'aliran' ini lebih ke gaya bahasa dan isi/hal yang dibahas. Beberapa orang menggunakan istilah 'cerpen serius' dan 'cerpen santai' atau 'cerpen berat' dan 'cerpen ringan' untuk membedakan ini. Meski tentu serius/santai dan berat/ringan ini debatable.


Jadi, saya gunakan 'aliran' aja.


Mudahnya, ada cerpen yang bahasanya lebih baku dan isi ceritanya lebih 'dalem'. Contohnya cerpen-cerpen koran. Topik dalam tulisan ini beraneka ragam, bisa tentang cinta, politik, isu sosial, atau sesimpel kejadian sehari-hari yang jamak terjadi di sekitar kita. Cerpen ini bisa serius, tapi kadang juga bisa lucu atau lucu slash nyindir. 


Di sisi lain, ada cerpen yang bahasanya teramat bebas, seperti bahasa percakapan sehari-hari. Isi cerita lebih mengulik alur dan elemen surprise dan semacamnya. Hal yang diulik biasanya baru permukaan atau kalau 'dalam' pun tidak sedalam tipe pertama. Oleh karena itu, ada beberapa yang menyebutnya cerpen santai. Umumnya topik berkisar di cerpen cinta remaja, persahabatan, cerpen anak-anak, dsb. (Not to say cerpen cinta remaja dkk tadi nggak bisa dibikin tipe pertama. Bisa. Semua tergantung penulisnya). Bila menilik pangsa pasar, mungkin ini jatuhnya ke tulisan teenlit, metropop, dan semacamnya. 


Mana yang lebih baik di antara keduanya?

Pendapat orang beda-beda. Kalau menurut saya, keduanya sama-sama bagus. Tergantung pada keahlian si penulis menuangkan cerita. Cerita aliran pertama yang membosankan, nggak sesuai fakta, atau terlalu melodramatik; ada. Namun, yang bagus dan merangkul konflik sederhana tapi mengena; juga ada. Di sisi lain, ada juga cerpen teenlit atau metropop yang asyik banget dibaca, bikin deg-degan atau ikut nangis. Tapi di sisi lain, ada juga cerpen tipe ini yang luar biasa alay.


Gimana dengan lomba cerpen?

Seiring dengan makin maraknya lomba menulis, tentu penulis akan pilih-pilih lomba mana yang ingin ia ikuti. Nggak mungkin, kan, ngikutin semua lomba? Ada beberapa kriteria yang bisa dijadikan alasan pemilihan.


Alasan pertama tentu kredibel atau enggak. Kredibel artinya panitia bertanggung jawab. Apalagi kalau ada biaya pendaftaran. Jangan sampai setelah bayar dan kirim naskah, kemudian sama sekali tiada kabar. Atau lebih buruk, naskahnya diambil dan di-hak milik tapi penulis tidak diberi apa-apa. 


Masih ada poin pertimbangan lainnya, tapi di sini lebih soal 'aliran' tadi. Kenapa? Sebab dengan mengetahui 'aliran' yang 'dianut' penyelenggara, penulis bisa lebih melihat kans dirinya lebih berpeluang atau tidak, terlepas siapa pun saingannya. Mudahnya: lebih baik kirim naskah ke lomba yang 'sealiran' dengan tulisan kita. 


Kalau cerpen kita lebih ke arah teenlit, ya jangan dimasukin ke lomba cerpen yang 'nyastra banget'. Begitu pula kalau gaya tulisan kita ala cerpen koran, maka sebaiknya nggak diikutkan lomba cerpen remaja. Kalau dikirim, apa pasti nggak menang? Ya belum tentu. Cuma kita sedang mempertimbangkan peluang tadi. Bila tulisan kita bukan jenis tulisan yang mereka cari, tentu peluang menangnya jauh lebih kecil.


Gimana cara tahu 'alirannya' apa? Kalau lombanya sudah berlangsung bertahun-tahun, kita bisa lihat naskah-naskah yang menang tahun sebelumnya. Apalagi kalau dibukukan dan ada e-booknya. Kalau nggak ada, gimana? Lihat bahasa dan desain poster yang digunakan penyelenggara. Kalau dia pakai bahasa santai/sehari-hari, mungkin cerpen 'santai' bisa dicoba. Kalau bahasanya lebih kaku, mungkin memang nyari cerpen 'serius'.


Lomba cerpen dari kampus umumnya lebih ke tipe cerpen pertama. Apalagi kalau penyelenggaranya adalah Fakultas Bahasa dan Sastra atau Fakultas Ilmu Budaya. Kadang, ada himpunan dan organisasi semacamnya yang bikin lomba cerpen dan meloloskan cerpen tipe kedua. Namun, dalam situasi seperti itu, cerpen tipe pertama tetap dapat peluang yang lebih besar untuk menang. Kenapa? Karena biasanya yang dicari adalah yang tipe rada serius (biasanya karena disesuaikan dengan tema kegiatan/visi organisasi). 


Lomba cerpen dari komunitas? Maka lihat jenis komunitasnya. Apakah ia jenis komunitas yang nyastra banget, atau santai banget, atau menerima semua naskah? Sebab, ada juga komunitas besar yang beragam sekali tulisan anggotanya sehingga dalam lomba-lomba yang ia adakan, ada cerpen-cerpen dengan beragam gaya yang turut lolos.


Gimana dengan penerbit? Ini juga mirip dengan komunitas; tergantung penerbitnya. Bahkan, kadang, tergantung jenis event-nya. Penerbit besar nggak berarti selalu nyari cerpen ala koran. Gramedia atau Mizan, misalnya. Kadang mereka juga cari cerpen teenlit dan sejenisnya. Lebih lagi kalau penyelenggaranya adalah platform perpanjangan tangan mereka, misalnya Gramedia dengan GWP dan Mizan dengan Rakatanya. 


Dari lomba-lomba yang pernah diselenggarakan, kadang ada penyelenggara yang transparan sekali soal penilaian. Jadi dibahas tuh cerpen ini kurangnya di mana, poin plusnya di mana. Nggak semua cerpen dibahas, memang. Kalau peserta sedikit, bisa aja dibahas. Tapi kalau pesertanya ratusan, hanya tulisan yang masuk nominasi aja. Kadang, penyelenggara bakal ngadain kelas menulis gratis dan di situ kita bisa tanya soal naskah kita.


Dalam beberapa kesempatan, saya nemu lebih banyak peserta yang menulis teenfic dan semacamnya memasukkan naskah ke lomba cerpen ala koran daripada sebaliknya. Mungkin karena belum tahu background penyelenggara tadi. 


Jadi apa cerpen aliran kedua nggak bisa lolos penjurian di lomba cerpen tipe pertama, begitu juga sebaliknya?

Menurut saya, itu tergantung eksekusi, penulisan, dan penulisnya.  Selama bisa meramu tulisan sedemikian rupa, ya, bisa aja. Kisah remaja atau dewasa muda pun bisa diulik lebih dalam dan disajikan dalam tulisan yang lebih serius. Sebaliknya, cerpen ala koran juga bisa dibawa ke ranah lebih santai. Entah dengan membahas hal-hal yang lebih terbatas atau cara lainnya.


Apa eksekusi (dan mengubah style naskah ini) mudah? Sekali lagi: tergantung penulisnya. Kalau buat saya, sih, susah, hahahah. Makanya kalau pengin ikut lomba cerpen, saya lihat-lihat 'alirannya' dulu supaya nggak mengubah banyak hal, melainkan sedari awal menulis cerita dengan style emang-gaya-gue. 


Beberapa contoh nyata, buat saya, adalah karya-karya Asma Nadia dan Dewi "Dee" Lestari yang tulisannya 'lentur'. Keduanya bisa menulis santai dengan bahasan ringan dan gaya lo-gue, tapi di lain waktu—dengan topik yang sama—mereka bisa mengubahnya menjadi fiksi yang lebih serius. Ini contoh eksekusi yang berbeda dari orang yang sama. Apa hanya dua orang ini saja? Tentu enggak. Masih ada penulis-penulis lainnya.


Jadi, sebaiknya menulis yang 'aliran' mana?

Terserah kita, penulisnya. Dan, tergantung apa yang kita kejar. Untuk beberapa hal, tentu ada kompromi yang harus dilakukan. Bila tidak mau kompromi, ya, betul-betul kembali pada apa yang kita sukai: masukkan naskah ke lomba yang 'sealiran' dengan kita. Sebab, kalau kilas-balik dari pengalaman sendiri, kelihatan betul mana tulisan yang berasal dari hati dan mana yang cuma mengikuti struktur tapi minim empati (demi mengikuti 'aliran' yang dicari oleh juri). Tulisan siapa itu? Tulisan siapa lagi kalau bukan saya sendiri, wkwkwk.


Buat orang yang nggak tahu kamu, cerpen itu mungkin bagus. Tapi, saya merasa dongeng-dongeng kamu jauh lebih otentik, lebih original, dan lebih mencerminkan kamu yang sebenarnya. Dalam cerpen itu, saya tidak menemukan diri kamu.  

          Keenan pada Kugy, Perahu Kertas by Dee




* * * * *

Photo is courtesy of Karolina Grabowska via Pexels.com

Reading Time: