Refleksi Menulis: Langkah-Langkah Berlatih Menulis dari Awal (Lagi) - Hijaubiru

Senin, 10 Maret 2025

Refleksi Menulis: Langkah-Langkah Berlatih Menulis dari Awal (Lagi)

 


Ketika udah lama nggak nulis atau nggak nulis tipe tulisan tertentu, biasanya kemampuan menulis seseorang jadi kaku. Skill-nya nggak hilang, tapi mungkin butuh dibangkitkan alias dibiasakan lagi.

 

Cara ‘membangkitkan’ kemampuan nulis (lagi) ini bisa beda-beda tiap orang. Bahkan, di satu orang pun caranya bisa beda-beda tergantung tipe tulisan yang ingin dibuat. Seenggaknya itu yang saya rasain kemarin.

 

Pendek cerita, jelang akhir tahun lalu saya pengin ngerutinin nulis lagi. Pasalnya kalau dilihat-lihat kayaknya udah lama nggak nulis panjang dan (rada) serius. Dirasa-rasa juga skill nulis khususnya perbendaharaan kosakata makin menurun. Jadi, mungkin udah saatnya nggak menulis random demi nyoret to-do-list di agenda aja.

 

Bukan berarti nulis random yang kayak menggugurkan kewajiban tadi jelek. Menurut saya itu udah lumayan. Daripada nggak sama sekali. Namun setelah berbulan-bulan berasa nulis tanpa arah, mungkin kini saatnya nulis dengan lebih terarah.

 

Jadi, langkah pertama untuk mulai menulis dari awal (lagi) adalah...


 

1. Temukan Masalahnya Apa

Langkah ini bisa dilewati kalau baru mau menulis dari nol. Menemukan masalah maksudnya adalah mendaftar apa aja kekurangan tulisan (atau skill menulis) kita. Tujuannya supaya kita bisa tahu apa aja yang harus diperbaiki atau dilatih lagi, sehingga di langkah selanjutnya bisa ngerumusin latihan macam apa yang cocok. 

 

 

2. Berlatih Menulis Setiap Hari Selama 1 Bulan

Yup, setiap hari. Bukan rutin. Rutin artinya teratur, yang berarti bisa jadi dua hari sekali, seminggu sekali, bahkan sebulan sekali tapi dilakukan setiap bulan juga bisa dibilang teratur. Nah, kalau mau nulis lagi setelah sekian lama vakum, menulis tiap hari membantu banget buat menciptakan suasana alias vibes menulis.

 

Tahun lalu, saya mencoba menulis setiap hari selama sebulan. Berat? Iya. Apalagi saya tahu bahwa saya bukan tipe orang yang bisa nulis tiap hari, tapi lebih pada tipe yang lebih optimal jika meluangkan—katakanlah—1 atau 2 hari dalam sepekan untuk menulis. Namun cara ini tetap saya lakukan untuk ‘memancing suasana’ tadi.

 

Tulisannya pendek-pendek? Nggak apa-apa. Namun saya membatasi diri sendiri: minimal 1-2 paragraf. Panjang tulisan ini saya tentukan supaya saya terbiasa mengeluarkan kata-kata. Tujuan langkah kedua ini memang supaya lebih lancar menghasilkan kalimat, agar tangan dan otak lebih lentur dan bebas.


Awalnya mungkin sulit. Kata-kata seperti mandek. Itu-itu aja. Namun lama-lama, kalimat itu memanjang dan menjadi paragraf. Bahkan kadang sampai satu halaman A4 atau lebih.

 

2.1. Tulis Sekarang, Edit Kapan-Kapan

Ngerasa tulisan belum bagus? Nggak apa-apa. Edit nanti, tulis dulu sekarang. Kemarin pada tahap ini saya cuma ngedit ejaan, isi sama sekali nggak saya sentuh. Seperti di atas, menulis tiap hari ini bertujuan agar kita lancar meluncurkan kata-kata dulu.

 

2.2. Tentukan Ide Tulisan Selama Sebulan

Bingung apa aja yang mau ditulis selama 30-31 hari?

Ada banyak cara. Di internet ada banyak tips ‘mencari ide menulis’. Paling gampang ya cerita sehari-hari yang kita alami. Tapi gimana kalau pengin nulis fiksi? Bisa pakai tema atau prompt. Kemarin saya pakai 30-days prompts yang saya temukan di akun-akun Instagram penulis. Ambil satu fragmen kejadian di hidup kita dan diselipkan ke tulisan fiksi pun bisa banget. Intinya banyak topik yang bisa dipakai.

 

Cara lebih mudah supaya nggak tiap hari cari tema baru:

Siapkan tema selama sebulan itu, di awal. Misalnya, kemarin saya sempat pakai topik “tempat-tempat yang bercerita”. Jadi sebulan itu saya nulis kisah tentang tempat-tempat di beragam lokasi; keunikannya, legenda, kebiasaan masyarakat, dsb. Kalau bosan, saya ganti dengan bikin cerpen yang setting-nya di sebuah lokasi.

 

Itu tadi tulisan non-fiksi. Gimana kalau fiksi? Sama aja. Malah enaknya kalau fiksi, kita bisa pakai kesempatan ini untuk menggali dan mengenal cerita kita lebih dalam. Apalagi kalau cerita itu kita niatkan untuk dijadikan novel. Bisa banget tuh tiap hari kita nulis tentang, misalnya: karakterisasi tokoh-tokohnya, eksplorasi setting dan konflik, dsb.

 

Kemarin kalau lagi kehabisan ide, saya pakai satu kejadian lalu diceritakan dari sudut pandang berbagai karakter. Contohnya kejadian barang hilang. Hari ini diceritakan dari POV tokoh utama A, besok dari POV tokoh B, lusa dari POV tokoh sampingan C, dsb. Satu kejadian bisa habis seminggu sendiri, tuh.


 

3. Menulis Rutin Selama 1 Bulan + Koreksi

Setelah jemari dan otak kita sudah lentur meluncurkan kata-kata, langkah selanjutnya adalah mengurangi frekuensi menulis. Bisa 4 kali saja dalam sebulan, 2 kali, atau bahkan hanya 1 tulisan dalam sebulan. Lho, kok?

 

Kelihatannya seperti berkebalikan, tapi ini adalah tahap selanjutnya untuk ningkatin skill tulisan. Bila di tahap sebelumnya kita menulis ngalir tanpa editing, maka di tahap ini kita mulai mengedit. Oleh karena itu frekuensi nulisnya dikurangi karena diseling dengan memperbaiki kekurangan kita dalam menulis (yang udah terumuskan di poin 1. Atau nemu kekurangan baru setelah melalui langkah 2)


Langkah ini nggak sengaja kepikiran setelah saya baca ulang tulisan selama 30 hari di atas. Rasanya, kok, tulisanku gitu-gitu aja, ya? Saya ngerasa ada (banyak) yang kurang. Kekurangan inilah yang kemudian dirumuskan di poin 1 tadi, untuk kemudian diatasi di poin 3 ini.

 

 

3.1. Beda Kasus, Beda Koreksi

Kekurangan tiap orang bervariasi sehingga koreksi di tahap ini bisa beda-beda tergantung kasusnya. 


Buat saya, masalahnya adalah:

  • Untuk tulisan fiksi, emosinya masih kurang terasa/berasa datar
  • Untuk tulisan fiksi, eksekusi konfliknya masih biasa aja
  • Untuk non-fiksi, kadang terlalu info-dump
  • Untuk non-fiksi, kosakata atau diksi yang digunakan kurang bervariasi, sehingga
  • Untuk non-fiksi naratif, emosi pembaca jadi kurang bangkit karena terfokus di data
  • Untuk non-fiksi, alurnya masih lompat-lompat sehingga pembaca (termasuk saya) ngerasa kurang ngalir/paham saat dibaca.

Setelah masalahnya ketemu, baru kita rumuskan koreksinya.

3.2. Membaca: Solusi Semua Koreksi

Koreksi dari semua persoalan di atas umumnya beda-beda. Namun ada satu yang hampir meng-kover semuanya: lebih banyak baca!

 

Emosi kurang terasa? Baca buku fiksi dan perhatiin gimana penulisnya membangkitkan emosi pembaca. Kosakata itu-itu aja? Baca apa pun itu, koran kalau perlu, supaya perbendaharaan kosakata nambah. Cara paling praktis: buka kamus atau tesaurus.

 

3.3. Buat dan Bedah Strukturnya

Untuk persoalan lain, seperti alur dan info dump, bisa dikoreksi dengan membedah struktur tulisan. Oh my... sesungguhnya saya bukan tipe orang yang suka nulis berbekal kerangka yang rigid. Lebih suka ngalir aja gitu. Namun untuk beberapa kasus, mau-nggak-mau saya harus ngaku kalau saya butuh kerangka.

 

Kerangka tulisan di sini nggak harus yang detail banget per bagian. Kalau ada orang yang suka ngerumusin detail, it’s okay. Saya sendiri tipe yang kerangkanya lebih kayak garis besar (bahkan kadang nggak ditulis, tapi ngawang di kepala aja) terutama saat nulis fiksi. Kalau nulis non-fiksi yang ada banyak data, barulah saya bikin kerangka lebih detail supaya nggak bersusah-payah inget-inget data bejibun dalam kepala.


Setelah masalah + koreksi ditemukan, selanjutnya adalah menentukan rutinitas. Mau berapa kali nulis dalam seminggu/sebulan?


3.4. Tentukan Rutin

Untuk langkah satu ini, saya pakai cara hitung mundur. Mirip cara tracking progress gitulah. Misal targetnya satu tulisan final tiap minggu. Maka tulisan itu jadi tiap weekend, sehingga 1-2 hari sebelumnya tulisan itu sudah harus jadi sehingga bisa diedit. Artinya saya punya waktu 2-3 hari untuk nulis. Hari 1-2 bisa dipakai untuk ‘membedah’ tulisan, termasuk menyusun kerangka, alur, cari data, dsb.


Contoh gampangnya seperti ini:

  • Hari 1: tentukan isi, cari data, tentukan kerangka
  • Hari 2: temukan kekurangan kerangka, perbaiki
  • Hari 3-5: nulis (bisa selama 3 hari itu, bisa 1 hari aja. Tergantung keinginan dan kemampuan/waktu luangnya)
  • Hari 6-7: editing
  • Hari 7: naskah jadi. Kalau mau bisa di-upload ke medsos dsb.

 

Ini contoh aja. Dalam kenyataannya, semua tergantung kita cocoknya gimana. Saya pernah maksain, dan hasilnya nggak begitu bagus karena malah stres dan nggak rileks nulis. Pernah juga malah nggak kegarap semuanya karena bikin plan yang terlalu padat.

 

Contoh 1 tulisan per minggu di atas juga cuma gambaran. Saya rasa, panjang dan isi tulisan amat menentukan durasi yang dibutuhkan. Pun tipe tulisan. Untuk tulisan yang data-driven atau panjang, saya bisa butuh waktu satu bulan sendiri buat satu naskah. Ngumpulin datanya bisa habis 1-2 pekan sendiri. Belum kalau ada foto, maka harus nyortir dan milihin mana yang sekiranya cocok.

 

‘Perlakuan’ untuk tulisan fiksi dan non-fiksi pun berbeda. Tergantung kita lebih lihai di mana, di situlah kita mungkin butuh waktu lebih sedikit untuk memolesnya (karena udah lebih ahli).

 

Pada akhirnya saya memutuskan mengambil ‘resep’ ini:

  • 1 tulisan non-fiksi atau panjang per bulan
  • 1 tulisan fiksi per bulan
  • 1 tulisan (pendek) per minggu

 

Apakah berhasil? Bulan kemarin, sih, belum, hahaha. Masih ada missed karena fiksinya nggak kegarap. Entahlah bulan ini. Let's see ðŸ˜„




Update: 

🔗 bagian 2 | Ketika Berlatih Menulis dari Awal



(Photo by M. Harris on Unsplash)

 

 

16 komentar:

  1. Tulisan ini akhirnya mengingatkan saya kembali bahwa menulis ya menulis saja terus. Menulis pun harus dilatih setiap hari. Kadang merasa bisa menulis karena di otaknya penuh ide. Tapi ternyata masih menulis di otak dan belum dituliskan dalam bentuk tulisan begini. Semangat terus menulisnya!

    BalasHapus
  2. Aduh, tulisan ini sungguh membuatku teraduk-aduk, jadi pingin ikut mulai rutin tiap hari nulis, tapi dilema karena aku tahu aku bukan tipe yang bisa nulis tiap hari. Alias buat plan tapi tahu bakal gak akan rampung😅.

    Tapi ya tetap aja kenyataan itu ingin dipatahkan sesekali. 🤣

    BalasHapus
  3. Tips menulis yang sangat membangkitkan semangat menulis supaya konsisten dan bahagia. Tulisan yang oke banged dah

    BalasHapus
  4. Ini salah satu tulisan penting bagi banyak orang yang suka nulis karena banyak penulis juga yg pernah mengalami berhenti nulis. Termasuk saya. Banyak tips bermanfaat dan detail yang diberikan. Terima kasih ya.

    BalasHapus
  5. Menulis ketika dibuatkan tipsnya seperti merasakan kembali apa saja yang pernah kita rasakan, relate banget dan kita ngerasa gk sendirian lagi. terimakasih.

    BalasHapus
  6. Related sama saya juga. Ketika tubuh sudah gaa karuan nyerinya. Kadang saya berhenti menulis hingga bertahun-tahun. Akhirnya semua ilmu menulis yang pernah saya pelajari hilang dan harus mulai dari nol lagi.

    BalasHapus
  7. Detail sekali step nya kak, makasih ya. Klo saya sekarang mau konsisten kan saja menulis, jenis tulisannya udah pakem dan tau apa2 aja mau ditulis. Ya sekali lg semoga bisa konsisten sehingga lahir 'anak' dari rahim sendiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mantap, jadi sudah terpetakan gitu ya. Amin, semoga lancar perjalanan dan kelahiran karyanya!

      Hapus
  8. Tulisan ini membuat saya jadi semangat untuk menulis lagi. Terimakasih.

    BalasHapus
  9. Buat saya yang suka nulis dan menjadikan rutinitas penulis ini merasa sangat bahagia ketika nulis. Hanya saja, saya enggak pernah ekspektasi ketika dihadapkan momen semangat down ketika menulis. Itu rasanya ambyar abracadabra. Padahal seharusnya bisa dijadikan sebagai cambukan untuk menulis, nyatanya tidak sama sekali.

    BalasHapus
  10. Mba, kan udah dibuat ya jadwalnnya, tapi kadang kalo lagi burn out nih ya udah deh lewat gitu aja jadwalnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama, Kak, kadang saya juga gitu. Kadang ngerasa sayang tapi kalau lagi repot, kayak, ya udah lewat gimana lagi. Sambil berharap semoga di jadwal selanjutnya bisa nulis lagi :’)

      Hapus
  11. Yang paling penting energinya ada. Saya sampe mentoring karena nggak punya energi untuk nulis. Rasanya males banget mau mulai lagi. Barulah ketemu masalah2 saya ada di mindset atau jiwa. Jadi selama energinya ga ada ya akan susah untuk menghasilkan tulisan. Thats why harus pinter nyari waktu optimal untuk nulis dan nggak maksain target yg sulit digapai. Menurut saya sih mending nulis rutin seminggu sekali daripada maksa tiap hari terus burn out setelah sebulan. Hehe hanya insight dr pengalaman aja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baiknya memang disesuaikan dengan diri sendiri lebih pas pakai cara seperti apa, karena tiap orang beda style/kebiasaan nulis, beda hambatan, beda juga solusinya. Hal macam ini emang seringnya cocok-cocokan. Semangat, Kak!

      Hapus