Refleksi Menulis: Ketika Berlatih Menulis dari Awal (part 2) - Hijaubiru

Rabu, 26 Maret 2025

Refleksi Menulis: Ketika Berlatih Menulis dari Awal (part 2)


 


Ada beberapa hal yang harusnya masuk di tips postingan 🔗Langkah-Langkah Berlatih Menulis dari Awal (Lagi). Tapi karena nggak tahu mau dimasukin di mana supaya semua paragrafnya masih koheren, jadi ditulis terpisah aja, hehe.

 

By the way, dua postingan ini emang kesannya personal dan spesifik karena sebetulnya ditulis buat ngurai hambatan yang saya temuin waktu latihan nulis kemarin. Rasanya lebih clear aja kalau ditulis, nggak dibayangin ngawang. Mau ditulis di notes tapi biasanya ketumpuk dan kelupaan sehingga nggak dibaca. Jadi ditulis di blog aja supaya keinget kalau buka browser.

 

Here we go...


 

Kosakata Fiksi vs Non-Fiksi

Jadi gini, ada beberapa perbedaan yang saya rasakan waktu ngelakuin rangkaian latihan yang ditulis di bagian 1 di atas. Perbedaan itu kerasa banget saat nulis fiksi dan non-fiksi. Tentu, tulisan non-fiksi lebih rigid daripada fiksi. Namun karena saya nulisnya non-fiksi naratif, maka harusnya bisa juga dibuat ngalir dan emosinya lebih kerasa.

 

Namun non-fiksi naratif saya masih kaku. Banget. Too much data kalau saya rasa. Yang sebenarnya nggak apa-apa asalkan dibarengi dengan selingan kalimat dan kata yang memicu timbulnya emosi ke permukaan. Masalahnya, ini enggak. Dan saya nemu satu akar masalahnya: kosakatanya nggak variatif.

 

Yes, entah mengapa kosakata yang saya pakai di non-fiksi lebih nggak variatif dibanding fiksi. Mungkin karena kalau fiksi, saya nyadar ‘rodanya’ adalah emosi sehingga saya pun ngasih effort dan perhatian lebih untuk cari kata yang sesuai dengan tujuan. Nah, non-fiksi, asal informasinya udah kesampaian, saya ngerasa udah cukup. Dan penyampaian info ini nggak butuh variasi kata yang gimana-gimana, beda dengan penyampaian emosi yang butuh kata-kata tertentu yang bikin saya menguras otak dan lebih rajin buka kamus dan tesaurus.

 

Jadi, kesimpulan untuk poin ini:

Pilihan kata atau diksi yang saya pakai kurang variatif, khususnya dalam non-fiksi. Thus, tulisan non-fiksinya kaku karena emosi yang saya rasain di lokasi nggak nyampai ke tulisan/pembaca.

 

Solusi:

(1) lebih libatkan emosi di non-fiksi atau variasikan diksinya, (2) latihan nulis fiksi terus jalan supaya kosakatanya kebawa di jenis tulisan apa pun.

 

 

Emosi yang Kurang Mengena di Non-Fiksi Naratif

Saya pun baru nyadar bahwa beda dengan catatan perjalanan (catper) atau travel notes yang saya buat duluuu sekali, catper saya akhir-akhir ini lebih banyak datanya daripada cerita pengalaman pribadi saya. Kalau dulu, itu cerita perasaan, kesan tentang pemandangan, dan semacamnya bisa jadi 1-2 halaman sendiri. Di catper yang paling terakhir kemarin, itu deskripsi palingan cuma 1 paragraf. Kadang malah beberapa baris aja.

 

Catper yang baik seharusnya seimbang antara cerita pengalaman diri sendiri dan kisah tentang tempat itu sendiri. Nah, ini yang saya nggak balance. Kalau dulu lebih banyak pengalaman pribadinya, sekarang malah banyakan datanya.

 

Jadi PR kedua adalah: memperbaiki imbalance pengalaman pribadi dan data-data ini.

 

Hm... apa lagi ya...

 

 

Menulis Rutin Itu Berat

Oh iya, menulis sesuai jadwal itu... berat. Jangankan setiap hari, sekali seminggu aja kadang rasanya udah mengisap energi.

 

Saya pun bukan tipe orang yang bisa nulis setiap hari. Sejak dulu, saya memang menggunakan hari-hari tertentu aja buat nulis. Masalahnya adalah semakin ke sini, semakin saya menulis sambil mengedit sehingga di hari-hari menulis itu malah tulisan saya mandek karena penginnya itu tulisan langsung selesai. Akhirnya malah sering berhenti lamaaa buat mikir dan malah nggak enjoy nulis seperti dulu karena kebanyakan mikir. Akhirnya, saya merasa pikiran dan jari saya pun macet mengetikkan kalimat-kalimat yang dulu mengalir lancar.

 

Tulisan nggak kunjung tamat, isi pikiran macet di ujung lidah tanpa diketik. Stuck.

 

‘Nggak bisa begini, nih’, batin saya.

 

Apalagi di saat yang bersamaan, saya ngerasa kosakata saya berkurang drastis. Ini juga yang jadi alasan kenapa mikirnya lama.

 

In the end, I resorted to one thing I rarely considered doing: nulis setiap hari tanpa mikir panjang. Tujuan nulis-30-hari ini memang sejatinya bukan buat ‘nulis’, tapi lebih buat melenturkan kosakata dan melancarkan pikiran. Cuma nulis 1-2 paragraf pendek pun oke.

 

Dan... bener aja, setelah nulis-bebas-30-hari, saya jadi lebih loss mengutarakan maksud dalam tulisan. Kosakata yang sempat hilang, perlahan kembali.

 

Setelah ngetiknya mulai lancar, frekuensi nulisnya saya kurangi jadi seminggu 1-2 kali aja. Itu pun ternyata masih kerasa berat, hahaha. Tapi ya udahlah, kalau nurutin mood kayaknya tulisan saya bakal lamaaa selesainya.

 

Jalanin dulu, evaluasi lagi nanti.




Photo by M. Harris on Unsplash

Tidak ada komentar: