Ketika udah lama nggak nulis atau nggak nulis tipe tulisan
tertentu, biasanya kemampuan menulis seseorang jadi kaku. Skill-nya
nggak hilang, tapi mungkin butuh dibangkitkan alias dibiasakan lagi.
Cara ‘membangkitkan’ kemampuan nulis (lagi) ini bisa
beda-beda tiap orang. Bahkan, di satu orang pun caranya bisa beda-beda
tergantung tipe tulisan yang ingin dibuat. Seenggaknya itu yang saya rasain
kemarin.
Pendek cerita, jelang akhir tahun lalu saya pengin ngerutinin
nulis lagi. Pasalnya kalau dilihat-lihat kayaknya udah lama nggak nulis panjang
dan (rada) serius. Dirasa-rasa juga skill nulis khususnya perbendaharaan
kosakata makin menurun. Jadi, mungkin udah saatnya nggak menulis random demi
nyoret to-do-list di agenda aja.
Bukan berarti nulis random yang kayak menggugurkan
kewajiban tadi jelek. Menurut saya itu udah lumayan. Daripada nggak sama
sekali. Namun setelah berbulan-bulan berasa nulis tanpa arah, mungkin kini
saatnya nulis dengan lebih terarah.
Jadi, langkah pertama untuk mulai menulis dari awal (lagi)
adalah...
1. Temukan Masalahnya Apa
Langkah ini bisa dilewati kalau baru mau menulis dari nol. Menemukan
masalah maksudnya adalah mendaftar apa aja kekurangan tulisan (atau skill menulis)
kita. Tujuannya supaya kita bisa tahu apa aja yang harus diperbaiki atau
dilatih lagi, sehingga di langkah selanjutnya bisa ngerumusin latihan macam apa
yang cocok.
2. Berlatih Menulis Setiap
Hari Selama 1 Bulan
Yup, setiap hari. Bukan rutin. Rutin artinya teratur, yang
berarti bisa jadi dua hari sekali, seminggu sekali, bahkan sebulan sekali tapi
dilakukan setiap bulan juga bisa dibilang teratur. Nah, kalau mau nulis lagi
setelah sekian lama vakum, menulis tiap hari membantu banget buat menciptakan
suasana alias vibes menulis.
Tahun lalu, saya mencoba menulis setiap hari selama sebulan. Berat?
Iya. Apalagi saya tahu bahwa saya bukan tipe orang yang bisa nulis tiap hari,
tapi lebih pada tipe yang lebih optimal jika meluangkan—katakanlah—1 atau 2
hari dalam sepekan untuk menulis. Namun cara ini tetap saya lakukan untuk ‘memancing
suasana’ tadi.
Tulisannya pendek-pendek? Nggak apa-apa. Namun saya membatasi
diri sendiri: minimal 1-2 paragraf. Panjang tulisan ini saya tentukan supaya saya
terbiasa mengeluarkan kata-kata. Tujuan langkah kedua ini memang supaya lebih
lancar menghasilkan kalimat, agar tangan dan otak lebih lentur dan bebas.
Awalnya mungkin sulit. Kata-kata seperti mandek. Itu-itu aja. Namun lama-lama, kalimat itu memanjang dan menjadi paragraf. Bahkan kadang sampai satu halaman A4 atau lebih.
2.1. Tulis Sekarang, Edit Kapan-Kapan
Ngerasa tulisan belum bagus? Nggak apa-apa. Edit nanti, tulis
dulu sekarang. Kemarin pada tahap ini saya cuma ngedit ejaan, isi sama sekali
nggak saya sentuh. Seperti di atas, menulis tiap hari ini bertujuan agar kita
lancar meluncurkan kata-kata dulu.
2.2. Tentukan Ide Tulisan
Selama Sebulan
Bingung apa aja yang mau ditulis selama 30-31 hari?
Ada banyak cara. Di internet ada banyak tips ‘mencari ide
menulis’. Paling gampang ya cerita sehari-hari yang kita alami. Tapi gimana
kalau pengin nulis fiksi? Bisa pakai tema atau prompt. Kemarin saya pakai
30-days prompts yang saya temukan di akun-akun Instagram penulis. Ambil
satu fragmen kejadian di hidup kita dan diselipkan ke tulisan fiksi pun bisa
banget. Intinya banyak topik yang bisa dipakai.
Cara lebih mudah supaya nggak tiap hari cari tema baru:
Siapkan tema selama sebulan itu, di awal. Misalnya, kemarin saya sempat pakai
topik “tempat-tempat yang bercerita”. Jadi sebulan itu saya nulis kisah tentang
tempat-tempat di beragam lokasi; keunikannya, legenda, kebiasaan masyarakat,
dsb. Kalau bosan, saya ganti dengan bikin cerpen yang setting-nya di
sebuah lokasi.
Itu tadi tulisan non-fiksi. Gimana kalau fiksi? Sama aja.
Malah enaknya kalau fiksi, kita bisa pakai kesempatan ini untuk menggali dan
mengenal cerita kita lebih dalam. Apalagi kalau cerita itu kita niatkan untuk
dijadikan novel. Bisa banget tuh tiap hari kita nulis tentang, misalnya:
karakterisasi tokoh-tokohnya, eksplorasi setting dan konflik, dsb.
Kemarin kalau lagi kehabisan ide, saya pakai satu kejadian lalu
diceritakan dari sudut pandang berbagai karakter. Contohnya kejadian barang
hilang. Hari ini diceritakan dari POV tokoh utama A, besok dari POV tokoh B, lusa
dari POV tokoh sampingan C, dsb. Satu kejadian bisa habis seminggu sendiri, tuh.
3. Menulis Rutin Selama 1
Bulan + Koreksi
Setelah jemari dan otak kita sudah lentur meluncurkan
kata-kata, langkah selanjutnya adalah mengurangi frekuensi menulis. Bisa 4 kali saja dalam sebulan, 2 kali, atau bahkan hanya 1 tulisan dalam sebulan. Lho, kok?
Kelihatannya seperti berkebalikan, tapi ini adalah tahap
selanjutnya untuk ningkatin skill tulisan. Bila di tahap sebelumnya kita
menulis ngalir tanpa editing, maka di tahap ini kita mulai mengedit. Oleh
karena itu frekuensi nulisnya dikurangi karena diseling dengan memperbaiki
kekurangan kita dalam menulis (yang udah terumuskan di poin 1. Atau nemu
kekurangan baru setelah melalui langkah 2)
Langkah ini nggak sengaja kepikiran setelah saya baca ulang tulisan selama 30 hari di atas. Rasanya, kok, tulisanku gitu-gitu aja, ya? Saya ngerasa ada (banyak) yang kurang. Kekurangan inilah yang kemudian dirumuskan di poin 1 tadi, untuk kemudian diatasi di poin 3 ini.
3.1. Beda Kasus, Beda
Koreksi
Kekurangan tiap orang bervariasi sehingga koreksi di tahap
ini bisa beda-beda tergantung kasusnya.
Buat saya, masalahnya adalah:
- Untuk tulisan fiksi, emosinya masih kurang terasa/berasa datar
- Untuk tulisan fiksi, eksekusi konfliknya masih biasa aja
- Untuk non-fiksi, kadang terlalu info-dump
- Untuk non-fiksi, kosakata atau diksi yang digunakan kurang bervariasi, sehingga
- Untuk non-fiksi naratif, emosi pembaca jadi kurang bangkit karena terfokus di data
- Untuk non-fiksi, alurnya masih lompat-lompat sehingga pembaca (termasuk saya) ngerasa kurang ngalir/paham saat dibaca.
Setelah masalahnya ketemu, baru kita rumuskan koreksinya.
3.2. Membaca: Solusi Semua
Koreksi
Koreksi dari semua persoalan di atas umumnya beda-beda. Namun
ada satu yang hampir meng-kover semuanya: lebih banyak baca!
Emosi kurang terasa? Baca buku fiksi dan perhatiin gimana
penulisnya membangkitkan emosi pembaca. Kosakata itu-itu aja? Baca apa pun itu,
koran kalau perlu, supaya perbendaharaan kosakata nambah. Cara paling praktis:
buka kamus atau tesaurus.
3.3. Buat dan Bedah
Strukturnya
Untuk persoalan lain, seperti alur dan info dump, bisa
dikoreksi dengan membedah struktur tulisan. Oh my... sesungguhnya saya
bukan tipe orang yang suka nulis berbekal kerangka yang rigid. Lebih
suka ngalir aja gitu. Namun untuk beberapa kasus, mau-nggak-mau saya harus
ngaku kalau saya butuh kerangka.
Kerangka tulisan di sini nggak harus yang detail banget per
bagian. Kalau ada orang yang suka ngerumusin detail, it’s okay. Saya
sendiri tipe yang kerangkanya lebih kayak garis besar (bahkan kadang nggak
ditulis, tapi ngawang di kepala aja) terutama saat nulis fiksi. Kalau nulis
non-fiksi yang ada banyak data, barulah saya bikin kerangka lebih detail supaya
nggak bersusah-payah inget-inget data bejibun dalam kepala.
Setelah masalah + koreksi ditemukan, selanjutnya adalah menentukan rutinitas. Mau berapa kali nulis dalam seminggu/sebulan?
3.4. Tentukan Rutin
Untuk langkah satu ini, saya pakai cara hitung mundur. Mirip cara
tracking progress gitulah. Misal targetnya satu tulisan final tiap minggu.
Maka tulisan itu jadi tiap weekend, sehingga 1-2 hari sebelumnya tulisan
itu sudah harus jadi sehingga bisa diedit. Artinya saya punya waktu 2-3 hari
untuk nulis. Hari 1-2 bisa dipakai untuk ‘membedah’ tulisan, termasuk menyusun
kerangka, alur, cari data, dsb.
Contoh gampangnya seperti ini:
- Hari 1: tentukan isi, cari data, tentukan kerangka
- Hari 2: temukan kekurangan kerangka, perbaiki
- Hari 3-5: nulis (bisa selama 3 hari itu, bisa 1 hari aja. Tergantung keinginan dan kemampuan/waktu luangnya)
- Hari 6-7: editing
- Hari 7: naskah jadi. Kalau mau bisa di-upload ke medsos dsb.
Ini contoh aja. Dalam kenyataannya, semua tergantung kita
cocoknya gimana. Saya pernah maksain, dan hasilnya nggak begitu bagus karena
malah stres dan nggak rileks nulis. Pernah juga malah nggak kegarap semuanya
karena bikin plan yang terlalu padat.
Contoh 1 tulisan per minggu di atas juga cuma gambaran. Saya rasa,
panjang dan isi tulisan amat menentukan durasi yang dibutuhkan. Pun tipe
tulisan. Untuk tulisan yang data-driven atau panjang, saya bisa butuh
waktu satu bulan sendiri buat satu naskah. Ngumpulin datanya bisa habis 1-2 pekan
sendiri. Belum kalau ada foto, maka harus nyortir dan milihin mana yang sekiranya
cocok.
‘Perlakuan’ untuk tulisan fiksi dan non-fiksi pun berbeda. Tergantung
kita lebih lihai di mana, di situlah kita mungkin butuh waktu lebih sedikit
untuk memolesnya (karena udah lebih ahli).
Pada akhirnya saya memutuskan mengambil ‘resep’ ini:
- 1 tulisan non-fiksi atau panjang per bulan
- 1 tulisan fiksi per
bulan
- 1 tulisan (pendek) per minggu
Apakah berhasil? Bulan kemarin, sih, belum, hahaha. Masih ada missed karena fiksinya nggak kegarap. Entahlah bulan ini. Let's see 😄
Update:
🔗 bagian 2 | Ketika Berlatih Menulis dari Awal
(Photo by M. Harris on Unsplash)